Fase 3: Ilusi Tenang

Bukannya merasa tenang oleh ajakan Morgan untuk beristirahat, Kagendra justru mengerutkan dahinya. Kedua alisnya bertaut membentuk satu garis lengkung yang menandakan kecurigaan yang mulai meluap di batinnya. "... Istirahat, benar... " Gumamnya, sebelum meraih gelasnya dan menatap ke arah air keruh yang beraroma melati itu. Cukup membuatnya tenang dan teringat akan rumah namun segera ia buyarkan dalam tegukan kecil. "Mungkin juga tempat ini tidak hanya menjadi awal mula bagiku, tetapi juga bagimu, tuan—" Kagendra melebarkan matanya, tersadarkan oleh satu fakta absolut yang menyelimuti logikanya. Netranya kini menatap Morgan, seakan-akan mengantisipasi nama si pucat satu ini. "Hm... Mungkin saja begitu, tapi tidak ada salahnya dengan hal baru, bukan? Semua orang bebas mengambil keputusan dalam hidup mereka... Lebih baik telat daripada tidak sama sekali!" Senyumnya kini kembali, lebih lebar dan ceria membuat lesung pipinya semakin dalam dan gigi putihnya terpajang rapi dari dalam mulutnya. Morgan hanya terkekeh pelan saat melihat reaksi dari Kagendra yang berubah cepat—dari rasa canggung ke optimisme yang membuncah—kekehannya lepas begitu saja sebelum menganggukkan kepalanya. "Yah, begitulah... " Sebelum akhirnya Ia mengulurkan tangannya, jntuk berjabat tangan. Sebagai tanda Damai dan salam hangat. Kagendra menerima jabatan tangan itu, entah kenapa tangan Morgan yang besar terasa sangat berbeda dari tangan kapalannya yang kecil. Membuat Kagendra sedikit tertegun sembari memperhatikan kontrasnya. "Morgan." Ucap pria pucat itu padanya, cukup untuk membuat Kagendra buyar begitu saja— "H-hah?" Kagendra tersentak, "maaf, kenapa?" tanya pria itu, yang hanya dibalas senyum tipis oleh sosok pucat di depannya. "Namaku, Morgan... Rasanya akan sangat tidak sopan jika mungkin suatu saat kita bertemu lagi namun kita tidak saling mengenal satu sama lain" Jelas Morgan yang membuat Kagendra mengangguk canggung sebelum tatapannya tertuju kembali pada jabatan tangan mereka. "... Senang bisa mengenalmu, Morgan." ucap Kagendra sebelum perlahan melepas jabatan tangan mereka. Keheningan itu kembali menusuk mereka. Namun kali ini, keheningan itu terasa sedikit lebih menenangkan, sedikit lebih hangat dari kecanggungan yang kaku beberapa saat lalu. "... Aku juga, Kagendra." Gumam Morgan, setuju dengan pernyataan dari Kagendra. Sentuhan kedua tangan dan juga perkenalan singkat yang dibalut pertanyaan membuat Kagendra menganalisa semua yang terjadi detik yang lalu. Dia seorang aristokrat, sedangkan faktanya sekarang... Ia terduduk santai di atas rerumputan dengan teh Melati yang diminum dari gelas sederhana. Dan pertanyaan itu kini muncul, sebuah balasan atas apa yang Morgan tanyakan. "Kau sendiri, pernah kepikiran untuk kabur? Atau memulai hidup baru? Terlihat dari— ekhem... Cara berpakaian mu yang rapi, kau tampaknya bukan pelancong biasa" Tanya Kagendra yang mencoba untuk berkata sopan walau itu sudah sangat sopan. Pemilihan katanya mungkin akan terdengar lancang untuk 'golongan' Morgan, namun kali ini Morgan hanya terdiam. Seakan-akan pertanyaan itu memiliki bobot sendiri di dalam batinnya, Ia kini menimbang kata-katanya sebelum menjawab. "Kalau kukatakan... Kalau aku ini pangeran— akankah kau... Percaya, Kagendra?" Tanya Morgan kembali netra merahnya menatap kearah pemuda di hadapannya. Hal itu membuat Kagendra tersenyum. "Tentu saja, aku lebih tidak percaya jika kau berkata kau bukan bagian dari aristokrat atau bagian dari kerajaan, dengan pakaianmu yang... Begitu." celetuknya santai, "memang, tak begitu banyak detil... Tapi aku punya mata tajam kalau sudah menyangkut bahan sutra dan linen berkualitas tinggi, Morgan." Benar juga, dilihat dari segi manapun Morgan jauh dari sebutan 'pelancong sederhana' pakaiannya mungkin cukup sederhana baginya, namun kualitas sutra tetap tak bisa dibohongi. Terutama di desa itu, sutra menjadi bahan yang paling mewah dan mahal di katalog mode. "Ah— begitukah?" balas Morgan, sedikit kikuk dengan identitasnya yang ketahuan. Ia kira gaya ini sudah cukup untuk berbaur—nyatanya tak juga— Morgan akhirnya menghela nafas panjang, pernyataan telak dari Kagendra menjadi koreksi baginya bahwa mungkin jika ingin berbaur, ia butuh sesuatu yang jauh lebih sederhana dibandingkan perlengkapannya saat ini. Tak bisa ia pungkiri juga, pakaian Kagendra justru membuat signifikansi keduanya terasa lebih kontras. "... Yah— begitulah." Balas Kagendra datar, agak canggung dengan atmosfer yang sekarang terbentuk. Walau dengan pembicaraan yang terus mengalir, tak dipungkiri bahwa aliran ini tak semestinya lurus dan tenang begitu saja. "Tapi— tidak apa-apa kok, asalkan kau bisa menjauh dari para pencuri maupun perampok yang masih merajalela, seharusnya kau bisa aman... Seharusnya" Sambung Kagendra berusaha mencairkan suasana. Morgan kini melirik Kagendra dari ekor matanya, sebelum melepas dengusan—hampir seperti sisa nafas yang sedaritadi Ia tahan begitu saja—sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. "Syukurnya, belum ada tangan nakal yang berani mengambil koin-koin milikku sejauh ini... " ucapnya enteng. Namun hal itu justru membuat Kagendra tertawa kecil. "Yah betul juga, tangan nakal tidak, tapi kau tidak bisa lepas dari para sales diluar sana yang bisa menawarkan harga tinggi kapan saja..." Ucapnya yang kini meraih roti jagung yang Ia beli sebelum duduk di bawah pohon ini bersama Morgan. "... Kau ada benarnya, hukum pasar dan penipuan tipis lumayan banyak terjadi—" Gumam Morgan, kepalanya mengangguk pelan, meng-iyakan ucapan dari Kagendra. Pemuda yang kini memenuhkan pipinya dengan makanan berbasis gandum itu hanya berkedip. "Tapi aku rasa kau bisa mengatasinya... Entahlah, tapi insting ku bisa mengatakan kau tidak peduli dengan hal-hal itu..." Ucap Kagendra, yang kemudian diberi sorot mata yang sedikit lebih tajam dari sebelumnya. "Aku?" Tanya Morgan, nadanya sedikit tersinggung oleh Kagendra yang menaruh asumsi bahwa— "Tak semua aristokrat tidak peduli dengan hal-hal kecil yang cukup banyak memakan korban seperti itu" Tegasnya yang membuat Kagendra berdeham pelan. "Maksudku bukan begitu— Morgan-" "Aku tahu maksudmu," Tegasnya, suaranya merendah sedikit, tanda bahwa tak ada rasa main-main yang membuncah di batinnya. Tegang, itulah yang terjadi pada saat itu. Suasana berubah dengan drastis dengan tatapan tegas dari Morgan yang tertuju pada pemuda di depannya. Asumsi kecilnya cukup membuat sang pangeran merasa tersinggung, tapi tentu saja ia tak bermasud untuk menyinggungnya. Jikalau iya, mungkin kepalanya sudah dipenggal habis oleh kawanan tentara pribadinya. "... Terlalu jauh, ya?" Tanya Kagendra, yang kemudian dibalas dehaman pelan milik Morgan. Aduh, salah deh, emang dasar aristokrat ini pada nyebelin ya, pikir Kagendra yang menunduk canggung. "Maaf, aku tak bermaksud menyinggung" Jujurnya. Jujur, janggal. Itu yang dirasakan Morgan sebelum akhirnya memejamkan matanya. "... Lupakan, aku benar-benar istirahat sekarang." Ucapnya pelan, sebelum menutup pembicaraan mereka saat itu. Dalam keadaan canggung, atau... Tenang? Entahlah, intinya... Pembicaraan ini selesai tanpa negoisasi.
Fase 3: Ilusi Tenang
0

Writers
AdenialTiraminyan
Publish Date
5/9/2026

0 Comment

Log in to add comment