Fase 2: Bentang Fakta

Langkah kaki Kagendra tampak ringan siang itu. Bagaimana tidak, hari-hari biasanya yang dipenuhi rutinitas membosankan dari pekerjaannya sebagai asisten pemanggang roti di desa itu akhirnya memiliki variasi akibat seorang pria tak berwarna (secara harfiah) terlalu penasaran dengan asal usul pria bersurai coklat gelap itu. "Duduklah, tuan... Roti dan tehnya jangan lupa, disini mereka terkenal dengan teh melatinya yang wangi dan roti jagungnya yang dibuat dari nol." celetuk Kagendra. Morgan, pria 'tak berwarna' yang Kagendra bawa dari toko roti tempatnya bekerja, hanya bisa mengerjapkan matanya dengan ekspresi bingung. "Kau kerja di toko roti, namun kau mempromosikan roti milik toko lain?" tanya Morgan yang kini tengah menatap ekspresi Kagendra yang semakin membuatnya bingung. "Ah yang namanya hanya pekerja biasa tak mungkin kan harus memakan roti buatan sendiri ditengah jam kerja?" tanya Kagendra, membalas pertanyaan Morgan, yang hanya dibalas dehaman yang seakan meng-iyakan argumen balik dari pria di depannya. "Masuk akal." gumamnya pelan, namun kini ekspresi bingungnya berubah kembali menjadi netral. "Jadi, kenapa tuan ingin berbicara kepada ku?" Tanya Kagendra yang sedikit santai dengan suasana mereka namun juga sedikit kikuk dengan atmosfer yang kini merosot karena transisi topik yang jauh dari kata mulus. Morgan terdiam, segala naskah dan daftar pertanyaan yang Ia susun sontak menguap begitu saja mengikuti angin sepoi yang tertiup saat mereka duduk tepat dibawah rindangnya pohon di atas mereka. Ia kembali berdehem, mencoba mengingat semua daftar pertanyaan yang tadi telah ia susun dengan matang. Seakan merutuki diri dari dalam karena sudah melupakan pertanyaan itu begitu saja. Kagendra hanya bisa menatap Morgan dengan tatapan yang sama bingungnya. "Anu- bagaimanakah?" tanya Kagendra, kini sorot matanya mulai sedikit serius, seakan-akan khawatir dengan Morgan yang kehilangan kemampuan untuk berbicara. Morgan sendiri tak perlukan orang untuk memvalidasi rasa bingungnya. Terlihat jelas bahwa lidahnya begitu kelu dengan suasana mereka yang begitu rumit untuk dijabarkan. "Kalau begitu, minumlah dulu... Mungkin saja setelahnya pikiran tuan bisa jernih kembali" Saran Kagendra, sembari menuangkan teh melati itu ke dalam gelas milik Morgan. "Uhm, terima kasih, Kagendra." ucapnya pelan, sebelum akhirnya kembali diam sembari menyesap gelas miliknya yang berisi teh aroma tersebut. Tenang dan hangat, aroma melati tersebut masuk kedalam hidungnya dengan sopan, membuat rasa tenang kini kembali meresap kesetiaan sel ditubuhnya. Melihat tubuh yang tenang di depannya, Kagendra akhirnya menghela nafas lega. "Jadi, Kagendra...." Morgan akhirnya meletakkan gelas itu di atas rerumputan, sebelum memejamkan matanya. "Berapa lama,, sejak kau berkelana disini?" Tanya Morgan yang kini sudah tenang. Pertanyaan yang cukup frontal, pikir Kagendra. Namun karena itu hanya pertanyaan biasa, ia hanya tersenyum dan menjawab "Cukup lama hingga aku nyaman disini, tuan." balasnya singkat, tak memberi detil lebih soal perjalanannya sebelum tiba di titik ini. Morgan berdeham, mengangguk tipis sebagai respon sembari meraih gelasnya kembali, matanya menerawang ke arah pemuda dihadapannya sebelum kembali fokus kepada tehnya. Kagendra hanya menatap Morgan dengan senyumnya sedari tadi, namun bisa dilihat sedikit adanya kehati-hatian dibalik netra hetrerochromia milik Kagendra. Tampaknya pemuda itu cukup paham dengan apa yang Ia sembunyikan. Sebagai pria yang juga menyembunyikan sesuatu dibalik tubuhnya yang sepucat kertas polos, ada keterikatan tersendiri yang dirasakan olehnya. "... Kabur?" tanya Morgan hampir tepat sasaran, membuat Kagendra melepaskan senyumnya namun tetap menjaga ekspresi polosnya seolah-olah ia tidak bersalah dalam hal yang ia lakukan. "Kenapa berpikir begitu? Apa aku terlihat seperti buronan, tuan?" Kekehnya santai, mencoba untuk mengecoh Morgan dari kebenaran yang merembes dari bahasa tubuhnya. Morgan tak langsung menjawab pertanyaan itu, sebelum Ia akhirnya menyandarkan punggungnya pada pohon di belakangnya. Tenang, itulah yang ekspresinya tampilkan saat ini, membuat Kagendra menatapnya kembali secara detail. Ah pertanyaan selanjutnya pasti akan berkaitan dengan itu, pikir Kagendra. Namun tentu saja ia akan menjawabnya sebelum akhirnya Morgan kembali bersuara. "Karena aku tahu banyak sejarah mengenai orang-orang yang kabur ke tempat ini." ucapnya enteng, netranya menatap dedaunan yang rindang sebelum menatap ke arah Kagendra. "Tempat mudah untuk memulai semuanya dari nol, jauh dari rumah yang tak lagi terasa seperti rumah... " gumam Morgan, matanya kini terpejam untuk membayangkan sesuatu. "Aku tahu bagaimana citra desa ini di mata pelancong, sebuah tempat yang bagus untuk memulai hidup baru yang jauh lebih baik" Penyataan tersebut membuat Kagendra kini menatap Morgan dengan sangat lekat. Oh, ternyata bukan, pikir Kagendra yang sedikit rileks namun terlihat juga seperti pemuda yang barusan merasa seperti melihat hantu. "Ah- tuan juga berkeinginan untuk memulai hidup baru?" tanya Kagendra, lalu dibalas oleh gelengan pelan dari Morgan. "Tidak, aku kemari untuk mencari seseorang, ia dikabarkan berada di desa ini, dan masuk akal untuk seorang yang memiliki kaitan erat dengan ku bisa kabur dan memilih desa ini untuk memulai hidup barunya" Jawab Morgan yang membuat Kagendra sedikit menggelengkan kepala mendengarnya. "Sayangnya, aku belum mendapat petunjuk lebih lanjut... hingga aku bertemu denganmu, Kagendra." Mulutnya kini terangkat membentuk senyuman, mungkin bersama kekehan pelan. "Mungkin, tak ada salahnya beristirahat dulu, bukan?"
Fase 2: Bentang Fakta
0

Writers
AdenialTiraminyan
Publish Date
5/9/2026

0 Comment

Log in to add comment