Fase 1: Garis Takdir

Setiap insan pasti memiliki garis takdir mereka masing-masing, tak terkecuali untuk mereka, Morgan dan Kagendra. Awalnya justru lucu, sebuah perjalanan kecil juga membuat sebuah ikatan takdir yang kuat. Dan justru dari hal tersebut, keduanya bisa memperkuat benang takdir tersebut melalui momen-momen kecil yang terjadi. Saat itu sederhana, desa kecil yang mereka datangi sebagai titik transit menjadi awal dari pertukaran kisah, informasi basa-basi tak relevan, hingga nama yang menjadi puncak dari identitas seseorang. Morgan Panuta Chandrawinata, pangeran kedua dari Kyratia yang namanya menjadi desas-desus diantara orang-orang lokal. Dia yang wajahnya bak rembulan, dia yang lahir dari sang mentari ucap mereka. Kali ini, interaksinya melibatkan seseorang dari negeri seberang. Kagendra Adiwiyata, setidaknya itu nama yang dia gunakan untuk memperkenalkan dirinya saat mereka duduk di depan toko roti di desa itu. "Kagendra, nama yang bagus. " Pujian tersebut terdengar tulus dibalik wajahnya yang menyamai sekitar dengan hati-hati. Kagendra, Pria yang memiliki namanya hanya melaksanakan tugasnya di dalam toko roti. Memanggang tanpa tahu bahwasanya namanya tertulis dan terukir dengan jarum dan benang milik penyusun takdir. "Orang-orang juga bilang begitu, tuan." balasnya santai, senyumnya relatif tipis, bak pembisnis yang hanya ramah atas dasar formalitas belaka. Morgan, hanya mendengus geli mendengar balasan ramah dari sang pemilik toko. "Dia anak muda, baru saja tiba dari kapal nun jauh sana... Katanya ada urusan dengan keluarga, tapi dia datang mau membantu, sungguh anak muda yang berbakti" Ucap wanita paruh baya yang saat itu mengaduk adonan roti dengan tangannya yang terbalur oleh tepung gandum. "Begitukah?" tanya Morgan, menatap wanita itu sebelum kembali menatap pria ramping di depannya. "Negeri manakah, jika tuan dan nyonya bisa memberitahu?" Namun hanya helaan nafas saja yang diberikan oleh narasumber. "Ia tak memberitahukan nya, katanya negerinya sudah lama hilang, nama pun tak akan muncul lagi ke permukaan, tak akan ada orang yang akan mengingat" Ucapnya, sembari memberikan tatapan malas ke arah Kagendra. "Negeri yang hilang?" gumam Morgan, seakan-akan merasakan kata-kata itu di lidahnya. "Maaf, aku tak tahu soal itu... aku turut berduka cita atas negeri tersebut" Sambungnya. "Mungkin saja apa yang dikatakannya benar namun tak mungkin juga rasanya sebuah negara bisa menghilang tanpa jejak, namun pemuda sepertinya tampak sangat berhati-hati dalam merahasiakannya, mungkin saja kau bisa berbicara dengannya." bisik wanita itu, sebelum membawa adonannya pergi untuk didiamkan. Morgan menimbang kata-kata wanita itu. Sebagai pria yang berkelana demi pengetahuan baru, mustahil untuk tidak merasa penasaran atas apa yang tersembunyi dibalik memenghilangnya negara tersebut. Dilihatnya sosok yang dibicarakan, Kagendra. Tubuhnya tidak terlalu tegap dan gagah namun tetap saja mempunyai ciri khas tersendiri, terutama saat ia berbalik dan tersenyum. Seolah-olah netra hetrerochromia tersebut menyimpan emosi sendiri yang tak ditunjukkan mimik wajahnya. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Morgan menghampiri Kagendra. Bukan untuk memberi makan rasa penasarannya; Ia dibesarkan untuk menggali akar yang tertanam di dalam tanpa mengukur seberapa dalam ia akan terkubur di dalamnya. Namun, Ia juga bukan bajingan yang akan mendesak seseorang untuk memberitahukan sejarah kelamnya diluar pekerjaan. Tak sesuai kode etik, pikirnya. "Kagendra, bukan?" Tanya nya, tetap dengan nadanya yang sopan. Sang empu yang namanya terpanggil hanya tersenyum dan mengangguk. "Ya, itu aku.. Ada yang bisa ku bantu?" Senyumnya semakin dalam membuat lesung pipinya kelihatan saat ia berbalik dan menatap sosok bertubuh pucat yang tingginya menjulang di depannya. Namun, netra merah miliknya sama sekali tak menunjukkan emosi 'pucat' yang senada dengan tutur katanya. "Bisa kita berbicara sebentar?" Tulus, bahkan tampak seperti seseorang yang hanya penasaran dengan kulit luar yang tampak dari sifat dalam seseorang. Dibalas oleh tawa kikuk Kagendra. "Kita sedang berbicara, bukan?" kekehnya, sontak membuat Morgan terdiam dengan wajah kikuk. "Ah- maksudku... " Kagendra tertawa, bukan untuk mengejek, tetapi karena Ia merasa lucu dengan kontras ekspresi yang dikeluarkan pria maskulin itu. "Maaf-maaf... Aku hanya merasa lucu melihat ekspresi mu dan tutur kata mu yang sangat berbeda... Tapi tentu saja, ayo ikut aku... Sangat tidak enak jika kita berbicara, berdiri disini saat semua orang sibuk" celetuknya. Kagendra kini menaruh bakul roti itu di rak belakang, suaranya terdengar sedikit lebih lantang saat Ia memanggil wanita paruh baya itu. "Nyonya-! aku keluar sebentar ya!" ucapnya, "Tuan ini butuh seorang teman cerita" Kekehnya yang terdengar nakal dengan maksud tertentu. Oh tentu saja, karena tugasnya pasti akan langsung diserahkan kepada adiknya yang dari tadi mengangkat karung-karung gandum dari gudang belakang. Sementara Kagendra akhirnya menatap Morgan yang sudah berdiri kaku di bingkai pintu. "Baik, ayo ikut aku- ada tempat yang menurutku bagus untuk bicara dengan tenang." celetuknya sebelum melangkah duluan. Morgan, hanya menatap Kagendra dengan tatapan bingung, namun tentu saja, rasa haus akan informasi dan ketertarikan kecil diantara mereka membuat kakinya bergerak tanpa pikir panjang dari sang empu. Langkah yang entah mengapa, terasa berbeda. Seakan-akan Ia disenggol oleh Sang Khalik detik itu. Penanda bahwa garis takdir mereka sedang dirajut oleh Sang Pencipta.
Fase 1: Garis Takdir
0

Writers
AdenialTiraminyan
Publish Date
5/9/2026

0 Comment

Log in to add comment